JENIS MURAI BATU
Di
habitat aslinya, Murai batu merupakan spesies yang mempunyai area peyebaran sangat
luas, kurang lebih 20.000 km (menurut “brids wildlife”). Populasi penyebarannya dapat ditemukan
membentang dari utara India, Nepal, Vietnam dan Cina selatan lalu ke arah
selatan terdapat di Sri Lanka, semenanjung Malaysia sampai Indonesia.
Murai
batu atau Kucica
hutan (Copsychus malabaricus), termasuk ke dalam famili Muscicapidae atau burung cacing, merupakan
burung kicau dengan suara sangat merdu dan mempunyai tatanan kicauan yang
sangat baik dan tertata apik. Di Indonesia burung ini tersebar di seluruh pulau
Sumatra,
sebagian pulau Jawa
dan Kalimantan. Khusus untuk ras dari Kalimantan Utara murai batu Alis-putih
(Copsychus malabaricus stricklandii) dikelompokan
sebagai spesies tersendiri. Berikut jenis murai batu dikelompokan dalam spesies :
- Copsychus malabaricus (White Rumped Shama),
- Copsychus luzoniensis (White Browed Shama),
- Copsychus niger (White Vented Shama)
- Copsychus cebuensis (Black Shama).
- Trichixos
pyrropygus
(Orange Tailed Shama / Rufous Tailed Shama) .
Di
daerah Sumatra
sendiri saja sudah mempunyai banyak jenis
murai batu yang tersebar di beberapa daerah dan dinamakan sesuai dengan daerah
tempat habitatnya, seperti murai batu aceh, murai batu medan ,
murai nias dan murai batu lampung.
Sedangkan di pulau Jawa penyebaran murai batu sudah sangat terbatas,
hanya di temukan di tempat-tempat hutan konservasi.
Pada
umumnya jenis murai batu sangat beragam tetapi sebagian besar sudah sangat
langka karena habitat semakin berkurang dan perburuan liar. Berikut ini berbagai jenis murai batu yang
hidup di Indonesia dan banyak ditemui di pasar burung yang mungkin sudah tidak
asing lagi bagi pecinta kicau mania.
· Murai batu medan, Bukit Lawang, Bohorok, kaki G Leuser
wilayah Sumatra Utara. Ciri ciri khusus mempunyai panjang ekor 27 – 30 cm.
· Murai Aceh, di kaki G Leuser wilayah Aceh. Ciri khusus
panjang ekor 25 – 30 cm.
· Murai Nias, ekor keseluruhan berwarna hitam. Ciri
khusus panjang ekor 20 – 25 cm.
· Murai Jambi, hidup di Bengkulu, Sumatra Selatan. Ciri
khusus panjang ekor 15 – 20 cm
· Murai batu Lampung, hidup di Krakatau, Lampung. Ciri
khusus tubuh lebih besar dari Murai Medan, Mempunyai panjang ekor 15 – 20 cm.
· Murai Banjar atau dikenal dengan Murai Borneo, jenis
ini hidup dan menyebar di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Ciri khusus
panjang ekor 10 – 12 cm.
· Murai Palangka. Mempunyai habitat di Kalimantan Tengah
dan Kalimantan Barat. Murai jenis ini juga sering disebut Murai Borneo. Ciri
khusus panjang ekor 15 – 18 cm
· Murai alis putih. Habitat di Kalimatan Utara, Ciri
khusus mempunyai alis putih dibagian kepala, panjang ekor 8-10 cm
· Murai Jawa atau dalam bahasa Jawa disebut Larwo, habitatnya
di pulau Jawa Tengah dan barat. Memiliki ukuran tubuh jauh lebih kecil dari jenis murai lainnya,
mempunyai panjang ekor tidak lebih dari 8 – 10 cm. Murai jenis ini sudah sangat
langka.
Untuk
spesies murai batu yang berasal dari luar Indonesia, dapat dikelompokan menjadi
3 jenis murai sesuai dengan asal negaranya, sbb ::
- Murai
batu Malaysia, habitatnya
di wilayah Penang. Dengan ciri khusus mempunyai postur tubuh lebih besar
dan sedikit lebih panjang dari murai medan. Panjang ekor sekitar 30 – 33
cm dan lentur.
- Murai
batu Thailand, habitatnya
disekitar perbatasan Thailand dan Malaysia. Seperti kebanyakan murai
Malaysia, murai ini juga mempunyai tubuh
lebih besar dari murai medan, mempunyai warna hitam mengkilap
kebiru-biruan dan mempunyai panjang ekor 32 – 35 cm.
- Murai
batu Philippine,
wilayah Luzon dan Catanduanes. Berbeda dari murai batu kebanyakan. Jenis
yang satu ini mempunyai tiga warna tubuh (Hitam dibagian tubuh atas, putih
dibagian dada dan coklat dibagian pinggul dibawah sayap) selain itu
dibagian kepala ada warna putih memanjang dari pangkal paruh hingga kepala
bagian belakang dan strip putih dibagian sayap. Begitu indahnya paduan
warna di jenis murai ini sehingga Jenis
ini lebih tepat disebut murai hias.
- Murai Cebu, Juga berasal dari Philippine, bedanya murai yang
satu ini semua tubuhnya berwarna hitam (Black Shama) kebiru biruan tetapi
ada juga yang mempunyai warna putih dibagian perut dan ekor bawah.
- Murai Niger, jenis ini mempunyai habitat di daerah Palawan,
Calamian, Balabac dan Sabang. Memiliki warna hitam pekat pada seluruh
tubuhnya.
Kelompok spesies murai mempunyai kerabat atau dapat disebut juga
sub-spesies. Dimana masing-masing spesies mempunyai jumlah sub-spesies tidak
sama banyak. Setiap sub-spesies menempati area penyebaran berbeda, seperti
dijelaskan dibawah ini :
A. Copsychus malabaricus (White Rumped Shama) terdiri
dari 19 sub-species:
- Copsychus interpositus (Nepal, India, Myanmar, Yunan -China, Thailand
dan Indochina)
- Copsychus stricklandii (Sabah, Kalimantan)
- Copsychus andamanensis (Andaman, Nicobar)
- Copsychus albiventris (Andaman)
- Copsychus indicus (Nepal, Indochina)
- Copsychus pellogynus (Myanmar, Peninsular)
- Copsychus minor (Hainan-China)
- Copsychus mallopercnus (Malaysia)
- Copsychus javanus (Jawa Barat dan Jawa Tengah)
- Copsychus omissus
- Copsychus barbouri (Maratua, Kalimantan Timur)
- Copsychus leggei (Sri Lanka)
- Copsychus malabaricus (India)
- Copsychus macrourus (Con Son, Vietnam Selatan)
- Copsychus tricolor (Malaysia, Sumatra, Natuna Island dan Anamba)
- Copsychus melanurus (Sumatra bagian Barat, Enggano)
- Copsychus suavis (Sarawak, Kalimantan)
- Copsychus mirabilis (Prinsen Island)
- Copsychus nigricauda (Kangean Island)
- Copsychus luzoniensis (Luzon, Catanduanes)
- Copsychus parvimaculatus (Polillo)
- Copsychus shemleyi (Marinduque)
- Copsychus superciliaris (Masbate, Negros, Panay,
Ticao).
C. Copsychus niger (White Vented Shama): Tersebar di
Palawan, Calamian, Balabac, Sabang (all in Philippines).
D. Copsychus cebuensis (Black Shama): Hidup di wilayah
Cebu Philippines.
E. Trichixos pyrropygus (Orange Tailed Shama / Rufous
Tailed Shama): Penyebaran di Way Kambas, Thailand, Malaysia dan Borneo.
Sumber :
Dirangkum dari berbagai sumber
Sumber Photo :
* Dari bebagai sumber
* Dari bebagai sumber












Komentar
Posting Komentar